Laman

Sabtu, 17 April 2010

Askep pertusis pada anak

LANDASAN TEORI
A. PENGERTIAN
1. Pertusis adalah suatu infeksi akut saluran nafas yang mengenai setiap pejamu yang rentan, tetapi paling sering dan serius pada anak-anak. (Behrman, 1992)
2. Pertusis adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang sangat menular dengan ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang bersifat spasmodic dan paroksismal disertai nada yang meninggi. (Rampengan, 1993)
3. Pertusis adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh Bordetella pertusis, nama lain penyakit ini adalah tussis quirita, whooping coagh, batuk rejan. (Mansjoer, 2000)
4. Pertusis adalah penyakit infeksi yang ditandai dengan radang saluran nafas yang menimbulkan Serangan batuk panjang yang bertubi-tubi, berakhir dengan inspirasi berbising. (Ramali, 2003)
5. Pertusis adalah infeksi bakteri pada saluran pernafasan yang sangat menular dan menyebabkan batuk yang biasanya diakhiri dengan suara pernapasan dalam bernada tinggi atau melengking.
B. ETIOLOGI
Pertusis biasanya disebabkan diantaranya sebagai berikut :
Bordetella pertussis (Hemophilis pertusis).
Suatu penyakit sejenis telah dihubungkan dengan infeksi oleh bordetella para pertusis, B. Bronchiseptiea dan virus.
Adapun cirri-ciri organisme ini antara lain :
1. Berbentuk batang (coccobacilus)
2. Tidak dapat bergerak
3. Bersifat gram negative.
4. Tidak berspora, mempunyai kapsul
5. Mati pada suhu 55 º C selama ½ jam, dan tahan pada suhu rendah (0º- 10º C)
6. Dengan pewarnaan Toluidin blue, dapat terlihat granula bipolar metakromatik
7. Tidak sensitive terhadap tetrasiklin, ampicillin, eritomisisn, tetapi resisten terhdap penicillin
8. Menghasilkan 2 macam toksin antara lain :
a. Toksin tidak yahan panas (Heat Labile Toxin)
b. Endotoksin (lipopolisakarida)
C. PATOFISIOLOGI
Peradangan terjadi pada lapisan mukosa saluran nafas. Dan organisme hanya akan berkembang biak jika terdapat kongesti dan infiltrasi mukosa berhubungan dengan epitel bersilia dan menghasilkan toksisn seperti endotoksin, perttusinogen, toxin heat labile, dan kapsul antifagositik, oleh limfosist dan leukosit untuk polimorfonuklir serta penimbunan debrit peradangan di dalam lumen bronkus. Pada awal penyakit terjadi hyperplasia limfoid penbronklas yang disusun dengan nekrosis yang mengenai lapisan tegah bronkus, tetapi bronkopnemonia disertai nekrosis dan pengelupasan epitel permukaan bronkus. Obstruksi bronkhiolus dan atelaktasis terjadi akibat dari penimbunan mucus. Akhirnya terjadi bronkiektasis yang bersifat menetap.
Cara penularan:
Penyakit ini dapat ditularkan penderita kepada orang lain melalui percikan-percikan ludah penderita pada saat batuk dan bersin. Dapat pula melalui sapu tangan, handuk dan alat-alat makan yang dicemari kuman-kuman penyakit tersebut. Tanpa dilakukan perawatan, orang yang menderita pertusis dapat menularkannya kepada orang lain selama sampai 3 minggu setelah batuk dimulai.
D. MANIFESTASI KLINIS
Masa inkubasi 7-14 hari, penyakit berlangsung 6-8 minggu atau lebih dan berlangsung dalam 3 stadium yaitu :
Stadium kataralis / stadium prodomal / stadium pro paroksimal
a. Lamanya 1-2 minggu
b. Gejala permulaannya yaitu timbulnya gejala infeksi saluran pernafasan bagian atasyaitu timbulnya rinore dengan lender yang jernih.
1) Kemerahan konjungtiva, lakrimasi
2) Batuk dan panas ringan
3) Anoreksia kongesti nasalis
c. Pada tahap ini kuman paling mudah di isolasi
d. Selama masa ini penyakit sulit dibedakan dengan common cold
e. Batuk yang timbul mula-mula malam hari, siang hari menjadi semakin hebat, sekret pun banyak dan menjadi kental dan lengket.
Stadium paroksimal / stadium spasmodic
a. Lamanya 2-4 minggu
b. Selama stadium ini batuk menjadi hebat ditandai oleh whoop (batuk yang bunyinya nyaring) sering terdengar pada saat penderita menarik nafas pada akhir serangan batuk. Batuk dengan sering 5 – 10 kali, selama batuk anak tak dapat bernafas dan pada akhir serangan batuk anak mulai menarik nafas denagn cepat dan dalam. Sehingga terdengar bunyi melengking (whoop) dan diakhiri dengan muntah.
c. Batuk ini dapat berlangsung terus menerus, selama beberapa bulan tanpa adanya infeksi aktif dan dapat menjadi lebih berat.
d. Selama serangan, wajah merah, sianosis, mata tampak menonjol, lidah terjulur, lakrimasi, salvias dan pelebaran vena leher.
e. Batuk mudah dibangkitkan oleh stress emosional missal menangis dan aktifitas fisik (makan, minum, bersin dll)
Stadium konvaresens
1. Terjadi pada minggu ke 4 – 6 setelah gejala awal
2. Gejala yang muncul antara lain :
a. batuk berkurang
b. nafsu makan timbul kembali, muntah berkurang
c. anak merasa lebih baik
d. pada beberapa penderita batuk terjadi selama berbulan-bulan akibat gangguan pada saluran pernafasan.


E. KOMPLIKASI
A. Pada saluran pernafasan
1. Bronkopnemonia
Infeksi saluran nafas atas yang menyebar ke bawah dan menyebabkan timbulnya pus dan bronki, kental sulit dikeluarkan, berbentuk gumpalan yang menyumbat satu atau lebih bronki besar, udara tidak dapat masuk kemudian terinfeksi dengan bakteri.
Paling sering terjadi dan menyebabkan kematian pada anak dibawah usia 3 tahun terutama bayi yang lebih muda dari 1 tahun. Gejala ditandai dengan batuk, sesak nafas, panas, pada foto thoraks terlihat bercak-bercak infiltrate tersebar.
2. Otitis media / radang rongga gendang telinga
Karena batuk hebat kuman masuk melalui tuba eustaki yang menghubungkan dengan nasofaring, kemudian masuk telinga tengah sehingga menyebabkan otitis media. Jika saluran terbuka maka saluran eustaki menjadi tertutup dan jika penyumbat tidak dihilangkan pus dapat terbentuk yang dapat dipecah melalui gendang telinga yang akan meninggalkan lubang dan menyebabkan infeksi tulang mastoid yang terletak di belakang telinga.
3. Bronkhitis
Batuk mula-mula kering, setelah beberapa hari timbul lender jernih yang kemudian berubah menjadi purulen.
4. Atelaktasis
Timbul akibat lender kental yang dapat menyumbat bronkioli.
5. Emphisema Pulmonum
Terjadi karena batuk yang hebat sehingga alveoli pecah dan menyebabkan adanya pus pada rongga pleura.
6. Bronkhiektasis
Terjadi pelebaran bronkus akibat tersumbat oleh lender yang kental dan disertai infeksi sekunder.
7. Aktifitas Tuberkulosa
8. Kolaps alveoli paru akibat batuk proksimal yang lama pada anak-anak sehingga dapat menebabklan hipoksia berat dan pada bayi dapat menyebabkan kematian mendadak.

B. Pada saluran pencernaan
1. Emasiasi dikarenakan oleh muntah-muntah berat.
2. Prolapsus rectum / hernia dikarenakan tingginya tekanan intra abdomen.
3. Ulkus pada ujung lidah karena tergosok pada gigi atau tergigit pada saat batuk.
4. Stomatitis.
C. Pada system syaraf pusat
Terjadi karena kejang :
1) Hipoksia dan anoksia akibat apneu yang lama
2) Perdarahan sub arcknoid yang massif
3) Ensefalopat, akibat atrof, kortika yang difus
4) Gangguan elektrolit karena muntah
Komplikasi lain :
1) Hemaptisis akibat batuk yang hebat sehingga menyebabkan tekanan venous meningkat dan kapiler pecah
2) Epistaksis dan perdarahan sub konjungtiva
3) Malnutrisi karena anoreksia dan infeksi sekunder
F. PENATALAKSANAAN
Anti mikroba
Pemakai obat-obatan ini di anjurkan pada stadium kataralis yang dini. Eritromisin merupakan anti mikroba yang sampai saat ini dianggap paling efektif dibandingkan dengan amoxilin, kloramphenikol ataupun tetrasiklin. Dosis yang dianjurkan 50mg/kg BB/hari, terjadi dalam 4 dosis selama 5-7 hari.
Kortikosteroid
a. Betametason oral dosis 0,075 mg/lb BB/hari
b. Hidrokortison suksinat (sulokortef) I.M dosis 30 mg/kg BB/ hari kemudian diturunkan perlahan dan dihentikan pada hari ke-8
c. Prednisone oral 2,5 – 5 mg/hari
Berguna dalam pengobatan pertusis terutama pada bayi muda dengan seragan proksimal.
Salbutamol
Efektif terhadap pengobatan pertusis dengan cara kerja :
a. Beta 2 adrenergik stimulan
1) Mengurangi paroksimal khas
2) Mengurangi frekuensi dan lamanya whoop
3) Mengurangi frekuensi apneu
b. Terapi suportif
1) Lingkungan perawatan penderita yang tenang
2) Pemberian makanan, hindari makanan yang sulit ditelan, sebaiknya makanan cair, bila muntah diberikan cairan dan elektrolit secara parenteral
3) Pembersihan jalan nafas
4) Oksigen
G. PENCEGAHAN
Diberikan vaksin pertusis yang terdiri dari kuman bordetella pertusis yang telah dimatikan untuk mendapatkan imunitas aktif. Vaksin ini diberikan bersama vaksin difteri dan tetanus. Dosis yang dianjurkan 12 unit diberikan pada umur 2 bulan. Kontra indikasi pemberian vaksin pertusis :
1. Panas lebih dari 33ºC
2. Riwayat kejang
3. Reaksi berlebihan setelah imunisasi DPT sebelumnya misalnya: suhu tinggi dengan kejang, penurunan kesadaran, syok atau reaksi anafilatik lainnya.









ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK
DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAFASAN
“PERTUSIS”

I. PENGKAJIAN

Anamnese
1. Riwayat alergi dalam keluarga, gangguan genetic.
2. Riwayat pasien dengan disfungsi pernapasan sebelumnya, bukti terbaru penularan terhadap infeksi, allergen/iritan lain, trauma.
3. Adanya kontak dengan penderita pertusis.
4. Riwayat vaksinasi.
Pemeriksaan Fisik
a. Aktivitas / istirahat
DS : Gangguan istirahat tidur, malaise.
DO : Lesu, pucat, lingkar mata kehitam-hitaman.
b. Sirkulasi
DS : -
DO : Tekanan darah normal / sedikit menurun, takikardi, peningkatan suhu.
c. Eliminasi
DS : BAB dan BAK normal
DO : BB menurun, turgor kulit kurang, membrane mukosa kering.
d. Makanan dan cairan
DS : Sakit kepala, pusing.
DO : Gelisah
e. Nyeri / kenyamanan
DS : Batuk pada malam hari dan memberat pada siang hari.
DO : Mata tampak menonjol, wajah memerah / sianosis, lidah terjulur dan pelebaran vena leher saat serangan batuk.
f. Pernafasan
DS : Batuk Pilek
DO :
- Bunyi nyaring (whoop) saat inspirasi.
- Penumpukan lender pada trachea dan nasopharing
- Penggunaan otot aksesorus pernafasan.
- Sputum atau lender kental.
Tahap Tumbuh Kembang
Berdasarkan perkembangan menurut DDST (Denver Developmental Screening Test)
Pemeriksaan penunjang :
a) Pembiakan lendir hidung dan mulut.
b) Pembiakan apus tenggorokan.
c) Pembiakan darah lengkap (terjadi peningkatan jumlah sel darah putih yang ditandai sejumlah besar limfosit, LEE tinggi, jumlah leukosit antara 20.000-50.000 sel / m³darah.
d) Pemeriksaan serologis untuk Bordetella pertusis.
e) Tes ELISA (Enzyme – Linked Serum Assay) untuk mengukur kadar secret Ig A.
f) Foto roentgen dada memeperlihatkan adanya infiltrate perihilus, atelaktasis atau emphysema

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d banyaknya mucus
2. Pola napas tidak efektif b/d dispnea
3. Resiko tinggi infeksi terhadap (penyebaran). Factor resiko ketidak adekuatan pertahanan utama
4. Gangguan pola tidur b/d aktivitas batuk
5. Resiko kekurangan volume cairan. Factor resiko adanya kehilangan volume cairan secara aktif
6. Resiko kekurangan nutrisi. Factor resiko adanya mual dan muntah
7. Intoleransi aktivitas b/d kelelahan

III. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d banyaknya mucus
Tujuan : status ventilasi saluran pernafasan baik, dengan cara mampu membersihkan secret yang menghambat dan menjaga kebersihan jalan nafas.
Kriteria hasil :
1. Rata-rata pernafasan normal
2. Sputum keluar dari jalan nafas
3. Pernafasan menjadi mudah
4. Bunyi nafas normal
5. Sesak nafas tidak terjadi lagi

a. Kaji frekuensi/ kedalamn pernafasan dan gerakan dada .
Rasional : takipnea, pernapasan dangkal,dan gerakan dada tak simetriks sering terjadi karena ketidak nyamanan gerakan dinding dada dan/ cairan paru
b. Auskultasi area paru,catat area penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi napas atventisius misalnya krekes,mengi.
Rasional : penurunan aliran udara terjadi pada area konsulidasi dengan cairan. Bunyi napas bronchial (normal pada bronkus) dapat juga terjadi pada area konsulodasi. Krekes,ronki,dan mengi terdengar pada inspirasi dan/ ekspirasi pada respon terhadap pengumoulan cairan, secret .
c. Bantu pasien latihan napas sering. Tunjukkan/ bantu pasien melakukan batuk, misalnya menekan dada dan batuk efektif.
Rasional : napas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/jalan napas lebih kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan napas alami, membantu silia untuk mempertahankan jalan napas paten. Penekanan menurunkan ketidaknyamanan dada dan posisi duduk memungkinkan upaya napas lebih dalam dan kuat.
d. Pengisapan sesuai indikasi
Rasional : merangsang batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik pada pasien yang tak mampu melakukan karena
e. Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari (kecuali kontraindikasi). Tawarkan air hangat daripada dingin.
Rasional : cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret.
f. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi
Rasional : untuk menurunkan sekresi secret dijalan napas dan menurunkan resiko keparahan
2. Pola napas tidak efektif b/d dispnea
Tujuan : menunjukkan pola napas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam rentang normal dan paru jelas atau bersih
Criteria hasil:
1. Frekuensi pernapasan normal
2. Bunyi paru jelas/bersih
3. Kedalaman paru dalam rentang normal
4. Bunyi napas normal
5. Pengembangan dada normal antara inspirasi dan ekspirasi

a. kaji frekuensi,kedalaman pernafasan, ekspansi dada. Catat upaya pernafasan, termasuk penggunaan otot bantu/ pelebaran masal.
Rasional : kecepatan biasanya meningkat. Dispnea dan terjadi peningkatan kerja napas (pada awal /hanya tanda EP subakut). Kedalaman pernafasan biasanya bervariasi tergantung derajat gagal napas. Ekspansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan/ nyeri dada pleuritik.
b. Auskultasi bunyi napas dan catat adanya bunyi napas adventisius, seperti krekels, mengi, gesekan pleural.
Rasional : bunyi napas menurun/ tak ada bila jalan napas obstruksi sekunder terhadap perdarahan,bekuan atau kolaps jalan napas kecil (atelaktasis). Ronki dan mengi menyertai obstruksi jalan napas/kegagalan pernafasan
c. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Bangunkan pasien turun tempat tidur dan ambulasi sesegera mungkin
Rasional : duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru memudahkan pernafasan. Pengubahan posisi dan ambulasi meningkatkan pengisian udara segmen paru berbeda sehingga memperbaiki difusi gas
d. Observasi pola batuk dan karakter secret
Rasional : kongesti alveolar mengakibatkan batuk kering/iritasi. Sputu berdarah dapat diakibatkan oleh kerusakan jaringan (infark paru) atau antikoagulan berlebihan
e. Dorong/bantu pasien dalam napas dalam dan latihan batuk. Pengisapan peroral atau naso trakeal bila diindikasikan.
Rasional : dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah ketidak nyamanan upaya bernafas.
f. Kolaborasi dalam pemberian oksigen tambahan bila diindikasikan.
Rasional : memaksimalkan bernapas dan menurunkan kerja napas


3. Resiko tinggi infeksi terhadap ( penyebaran ). Factor resiko ketidak adekuatan pertahanan utama (penurunan kerja silia)
Tujuan : tidak terjadi resiko infeksi
Criteria hasil :
1. Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi
2. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi
a. Pantau tanda vital dengan ketat,khususnya selama awal terapi.
Rasional : selama periode waktu ini, potensial terjadi komplikasi
b. Anjurkan klien untuk memperhatikan pengeluaran secret (misalnya meningkatkan pengeluaran daripada menelannya) dan melaporkan perubahan warna, jumlah dan secret.
Rasional : meskipun pasien dapat menemukan pengeluaran dan upaya infeksi atau menghindarinya, penting bahwa sputum harus dikeluarkan dengan cara aman. Perubahan karakteristik sputum menunjukkan terjadinya infeksi sekunder.
c. Dorong teknik mencuci tangan baik
Rasional :menurunkan resiko penyebaran infeksi
d. Batasi pengunjung sesuai indikasi.
Rasional : menurunkan pajanan terhadap pathogen infeksi lain.
e. Kolaborasi berikan antimicrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum/darah, misalnya eritromisin.
Rasional : obat ini digunakan untuk membunuh kebanyakan mikrobial

4. Gangguan pola tidur b/d aktivasi batuk
Tujuan : pasien dapat tidur dan istirahat sesuai kebutuhannya
Criteria hasil :
1. Jam tidur setiap harinya tetap
2. Pola tidur normal
3. Kualitas tidur baik
4. tanda-tanda vital normal
5. kebiasaan tidur siang teratur

a. kaji kebiasaan tidur klien sebelum dan sesudah tidur
Rasional : untuk mengetahui kebiasaan tidur klien serta gangguan yang dirasakan dan membantu dalam menentukan intervensi selanjutnya
b. diskusikan kemungkinan penyebab gangguan tidur
Rasional : mengetahui penyebab gangguan tidur sehingga mempermudah intervensi selanjutnya
c. Beri posisi yang nyaman
Rasional : posisi yang nyaman dapat meningkatkan relaksasi sehingga menstimulasi untuk tidur
d. Anjurkan klien untuk mengkomsumsi makanan atau miniman yang tinggi protein sebelum tidur
Rasional : protein menghasilkan triptofan yang mempunyai efek sedative
e.Anjurkan keluarga klien untuk menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
Rasional : lingkungan yang tenang dapat memberikan rasa nyaman sehingga menstimulasi klien untuk tidur.
5. Resiko kekurangan volume cairan. Factor resiko adanya kehilangan cairan secara aktif.
Tujuan : kekurangan volume cairan tidak terjadi
Kriteria Hasil :
1. tekanan vital stabil
2. Turgor kulit baik
3. turgor kulit baik
4. membrane mukosa lembab
5. Pengisian kapiler cepat

a. Kaji perubahan tanda-tanda vital, contoh peningkatan suhu/demam memanjang,taki kardia,hipotensi ortostatik
Rasional : peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkatkan laju metaboli dan kehilangan cairan melalui evaporasi. Tekanan darah ortostatik berubah dan peningkatan takikardia menunjukkan kekurangan cairan sistemik
b. Kaji turgor kulit, kelembaban membrane mukosa (bibir dan lidah)
Rasional : indicator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membrane mukosa mulut mungkin kering karena napas mulut dan oksigen tambahan
c. Catat laporan mual dan muntah
Rasional : adanya gejala ini menurunkan masukan oral.
d. Pantau masukan dan haluaran,catat warna,karakter urine. Hitung keseimbangan cairan. Waspadai kehilangan yang tidak tampak. Ukur berat badan sesuai indikasi.
Rasional : memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan kebutuhan penggantian
e. Tekankan cairan sedikitnya 2500 ml/hari atau sesuai kondisi individual
Rasional : pemenuhan dasar kebutuhan cairan menurunkan resiko dehidrasi
f. Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi
Rasional : berguna menurunkan kehilangan cairan


6. Resiko kekurangan nutrisi. Factor resiko adnya mual dan muntah
Tujuan : resiko kekurangan nutrisi tidak terjadi
Criteria hasil :
1. Menunjukkan peningkatan nafsu makan
2. Mempertahankan/ meningkatkan berat badan

a. Identifikasi factor yang menimbulkan mual/muntah,misalnya sputum banyak, pengobatan aerosol, dispnea berat ,nyeri.
Rasional : pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah
b. Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin.berikan/bantu kebersihan mulut setelah muntah,setelah tindakan aerosol dan drainase postural,dan sebelum makan.
Rasional : menghilangkan tanda bahaya, rasa, bau dari lingkungan pasien dan dapat menurunkan mual muntah
c. Jadwalkan pengobatan pernapasan sedikitnya 1 jam sebelum makan.
Rasional : menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini.
d. Auskultasi bunyi usus. Observasi/palpasi distensi abdomen.
Rasional : bunyi usus mungkin menurun/tak ada bila proses infeksi berat/memanjang. Distensi abdomen terjadi sebagai akibat menelan udara atau menunjukkan toksin bakteri pada saluran GI
e. Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang,krekers) dan/atau makanan yang menarik untuk pasien.
Rasional : tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun napsu makan lambat untuk kembali.
f. Evaluasi status nutrisi umum. Ukur berat badan dasar.
Rasional : adanya kondisi kronis atau keterbatasan ekonomi dapat menimbulkan nutrisi, rendahnya tahanan terhadap infeksi, dan/atau lambatnya respons terhadap terapi.
7. Intoleransi aktivitas b/d kelelahan ( akibat batuk dan gangguan tidur)
Tujaun : melaporkan/menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas
Criteria hasil :
3. Tidak adanya dispnea
4. Kelemahan berlebihan
5. Tanda vital dalam rentang normal
a. Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas. Catat laporan dispnea,peningkatan kelemahan /kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas
Rasional : menetapkan kemampuan atau kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi
b. Berikan lingkungan tenang dan batas pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.dorong penggunaan manajemen stress dan pengalihan yang tepat
Rasional : menurunkan stress dan meningkatkan istirahat.
c. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dn istirahat
Rasional : tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolic,menghemat energy untuk penyembuhan. Pembatasan aktivitas ditentukan dengan respon individual pasien terhadap aktivitas dan perbaikan kegagalan pernafasan
d. Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur
Rasional : pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur dikursi,menunduk kedepan meja atau bantal.
e. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan.
Rasional : meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan dan suplai dan kebutuhan oksigen

IV. EVALUASI
1) status ventilasi saluran pernafasan baik
2) menunjukkan pola napas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam rentang normal dan paru jelas atau bersih
3) tidak terjadi resiko infeksi
4) pasien dapat tidur dan istirahat sesuai kebutuhannya
5) kekurangan volume cairan tidak terjadi
6) resiko kekurangan nutrisi kurang dari kebutuhan tidak terjadi
7) melaporkan/menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas


TINDAKAN PEDIATRIK:
1. Kateter orofaring
Alat ini adalah alternative lain dalam memnuhi kebutuhan oksigenasi. Pemberian oksigen melalui kateter atau ortofaring dilakukan dengan kateter 8-10 FR untuk anak-anak
f. Peralatan
• Tabung o2 kateter orto faring sesuai ukuran
• Flow meter konektor
• Humidifier berisi air steril spatel lidah
• Kasa pelumas (lubricant)
• Senter plaster
• Tanda “dilarang merokok”
g. Prosedur
1) cuci tangan
2) jelaskan tujuan pemberian oksigenasi dengan kateter
3) menghubungkan flow meter ke humidifier dan kateter dihubungkan dengan menggunakan konektor
4) mengukur panjangnya kateter yang akan dimasukkan
5) memasukkan kateter orofaring dengan cara :
a) olesi kateter dengan cairan pelumas
b) beri oksigen 2-3 l/m
c) sandarkan kepala klien kebelakang
d) masukkan kateter mengikuti dasar lubang hidung
6) menetapkan kadar oksigen sesuai program pengobatan
7) memfiksasi kateter oksigenasi pada hidung
kewaspadaan
observasi apakah :
 kateter tidak tersumbat
 orofaring teriritasi
 tabung pelembab kurang cukup terisi air
 oksigen tidak mencukupi
8) mengkaji respon klien
9) mendokumentasikan prosedur dalam catatan klien : waktu pemberian aliran, aliran kecepatan O2, rute pemberian, dan respon klien
10) memasang tanda dilarang ‘merokok’
2. pengispan lender
pengisapan lender adalh suatu metode untuk mengeluarkan lender/secret dari jalan napas. Pengisapan ini biasa dilakukan melalui mulut,nasofaring, trakea. Prosedur ini bertujuan untuk mempertahankan kepatenan jalan napas dengan menjaga kelancaran dan membebaskan jalan napas dari secret /lendir yang menumpuk.
Prosedur ini dikontrakindikasikan pada klien yang mengalami kelainan yang dapat menimbulkan spasme laring (terutama sebagai akibat pengisapan melalui trakea), gangguan perdarahan, edema laring, farises esofhagus, pembedahan trakea, pembedahan gaster yang anastonosis, dan infark miokard.
a. Peralatan
1) Mesin pengisap dan set pelengkap
2) Kateter pengisap ukuran 14 F (dilengkapi dengan alat penutup dan pembuka)
3) Wadah steril (terutama pada area trakea dan trakeostomi)
4) Air steril,pelumas,tisu/lap pengering, handuk steril, handskum steril
5) Set O2
6) Botol penampung
7) Manometer untuk mengukur jumlah daya isap
8) Spatel lidah
b. Prosedur
1) Mencuci tangan
2) Menjelaskan prosedur kepada klien atau keluarga
3) Mengukur tanda vital
4) Memeriksa fungsi mesin isap
5) Memberikan O2 sebelum melakukan pengisapan
6) Memakai sarung tangan dan member pelumas kepada kateter. Dengan pengisapan tidak mengisap, masukkan kateter perlahan-lahan sampai kefaring, laring. Dengan pengisapan, keluarkan kateter secara memutar (kateter dimanipulasikan). Lama pengisapan 10-15 detik, dan berikan istirahat
7) Memberikan oksigen setelah pengisapan
8) Menilai kembali kondisi klinis klien
9) Mendokumentasikan respon klien dalam catatan
c. Teknik pengisapan lendir dan yang harus diperhatikan
1) Harus bekerja secara aseptic. Untuk 1 pasien perlu disediakan paling tidak dua kateter steril. Kateter yang dipergunakan untuk mengisap hidung tidak boleh untuk mengisap kanula trakea.
2) Dua kateter yang telah dipakai mengisap selanjutnya dibilas, dicabut dan direndam kedalam cairan desinfektan (jangan menggunakan lisol karena baunya merangsang,dan dapat menyebabkan batuk-batuk. Kalau tidak ada desinfektan lain sesudah direndam lisolharus dicuci bersih untuk menghilangkan baunya).
3) Diameter kateter harus lebih kecil daripada lubang kanul (kira-kira 2/3-nya) karena jika lebih besar atau kekecilan tidak akan efektif untuk mengisap lendir.
4) Waktu memasukkan kateter harus dalam keadaan hampa udara. Caranya: bila kateter mempunyai pangkal yang berbentuk huruf v atau sebuah pipa yang mempunyai 2 lubang,lubang yang tidak dihubungkan dengan kateter ditutup dengan ibu jari ketika kateter dimasukkan kedalam trakea kanul. Jika hanya menggunakan kateter biasa harus dilipat (tekuk),dipegan dengan tangan kiri dan tangan kanan memasukkannya kedalam kanul (karena bila tidak hampa udara kateter akan susah dimasukanya sampai didalam,kateter akan menempel pada dinding kanula). Panjang kateter yang masuk sampai diujung kanul kira-kira 5-7 cm.
5) Lama mengisap lendir hanya sekitar 10-15 detik kemudian dicabut dahulu untuk memberikan kesempatan klien bernafas. Diulang lagi secara demikian sampai lendir habis. Jika secret kental,teteskan dahulu 1-2 tetes air garam fisiologis,biarkan sebentar kemudian diisap.
6) Waktu memasukkan kateter harus hati-hati dan cara mengisap tidak boleh maju mundur tetapi ‘’memutar’’. Catat secret yang keluar apkah kental/berdarah,atau biasa banyaknya juga jam-jam dilakukan pengisapan dengan memberikan tanda (ceklis)pada catatan perawatan khusus yang tersedia.
7) Pengisapan lendir dilakukan sewaktu-waktu apabila terlihat: pasien gelisah dan batuk-batuk,lendir terlihat banyak pada lubang kanula,atau jika pasie diberi minum/makan per sonde dan akan mengubah sikap berbaringnya.
8) Jangan lupa sambil berbicara dengan pasien sewaktu mengisap lendir.
9) Sediakan air matang dan desinfektan pada setiap pasien yang dilakukan pengisapan lendir. Gunakan sebelum kateter dimasukkan kedalam kanul/hidung diisapkan dahulu kedalam air tersebut untuk mengecek apakah pengisap baik dan juga untuk membasahi kateter (sebagai ganti jeli untuk pelicin kateter).
10) Sesudah pengisapan,kateter dibilas/disiapkan pada cairan desinfektan untuk membilas selang pengisap baru kemudian kateter dicabut dan direndam ke dalam desinfektan.
11) Air matang harus sering diganti (botol dicuci bersih). Botol penampung diberi tanda sampai seberapa isinya harus dibuang; dicuci bersih dengan desinfektan. Lebih baik ganti botol lain yang telah didesinfeksi.
12) Ubah sikap berbaring pasien setiap 3 jam (jangan lupa isap lendirnya lebih dahulu).usap dengan lap bagian tubuh bekas yang tertekan dan beri bedak.





















DAFTAR PUSTAKA
Ngastiyah.2005.Perawatan Anak Sakit.Edisi 2.Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Doenges,dkk.2001.Rencana Asuhan Keperawatan.Edisi 3.Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Hidayat,A Aziz.dkk.2005. Buku Saku Praktik KDM.Edisi 1. Jakarta: Buku kedokteran EGC